Senin, 24 September 2012

Rabu, 19 September 2012

ketika...

ketika teori tak seindah praktek,,
ketika hal yang benar tertutup oleh hal yang salah,,
dan...

ketika idealisme mulai dipertanyakan,,

Minggu, 16 September 2012

aturan main jalan raya pare-wates

aturan no.1
truk selalu benar

aturan no.2
jika truk salah, maka kembali ke aturan no.1

aturan no.3
sepeda motor selalu salah

aturan no.4
jika sepeda motor benar, maka kembali ke aturan no.3

aturan no.5
menyalip itu dari sebelah kanan
 

_intermezzo malam_

Jumat, 14 September 2012

kimera, katana, bolang

kalau dipikir-pikir,
sudah lama sekali aku ga komunikasi sama kalian,
yah, mungkin kalo sekedar sms masih iya,
tapi cuma sekedar say hallo sama nanya kabar,
padahal sebenernya, banyak hal yang terjadi,
baik di antara kalian, maupun aku sendiri,
pasti telah banyak cerita yang terukir,
walaupun sekarang kita terpisah jauh,
namun, banyak yang tidak tersampaikan,
entah apa alasannya,,

mungkin sebenernya, aku yang malas cerita,
mungkin karena sedang sibuk dengan yang lain juga,
mungkin dapat kukatakan,
aku melupakan kalian,,

tapi telpon seorang sahabat semalam menyadarkanku,
"kamu punya kita"
benar sekali,
disaat sedang sendiri pun,
aku masih punya kalian,,

waaaa, dasar bodoh,
ingin sekali menempeleng kepala ini,
dan berkata keras-keras “BAKA”
kenapa aku bisa melupakannya,
sahabat-sahabat terbaikku,
yang selalu memikirkan sahabatnya,
yang selalu peduli dengan sahabatnya,,

maaf kawan,,
gomen nasai,,

“bukan meminta, tetapi diberikan”
lagi-lagi kalimat yang menampar wajah,,

Rabu, 12 September 2012

Panen Buah Penduduk Hutan

       Bulan September, saatnya bagi pohon-pohon di hutan yang sedang berbuah untuk dipanen. Penduduk hutan pun tidak melewatkan kesempatan ini. Di hari Minggu pagi yang cerah, mereka bersama-sama menuju ke dalam hutan untuk memanen buah-buahan. Tak ketinggalan keluarga kijang merah turut serta. Manggis, rambutan, duku, salak, jeruk, durian, dan berbagai macam buah lain siap untuk dipetik. Penduduk hutan pun bahu membahu memanen buah-buah tersebut. Mereka bekerja dengan riang gembira.



Telah menjadi kebiasaan penduduk hutan bahwa apabila buah-buah di hutan telah siap untuk dipanen, maka mereka semua bersama-sama untuk memetiknya, kemudian mengumpulkannya di satu tempat. Setelah semua pohon telah selesai dipanen, mereka pun berkumpul di tempat pengumpulan buah. Dengan cekatan, Tetua Hutan membagi buah-buahan tersebut untuk seluruh penduduk hutan yang hadir. Semua mendapat bagian yang adil dan rata, termasuk keluarga kijang merah. Setelah pembagian buah selesai, mereka semua pun pulang ke pondok masing-masing di desa pinggir hutan.

      Sesampainya di pondok, keluarga kijang merah sudah tak sabar untuk segera menyantap buah-buahan tersebut. Mereka mencari tempat yang nyaman di sekitar halaman pondok mereka untuk menikmati buah-buah tersebut bersama-sama. Setelah mendapat tempat terbaik untuk bersantai, yaitu di bawah pohon yang rindang, mereka pun segera melahap buah-buah tersebut. Buah yang dipetik langsung dari hutan memang terasa lebih nikmat dibandingkan buah yang dibeli di pasar.

 
Keluarga kijang merah sangat menyukai buah-buahan. Namun mereka mempunyai buah kesukaan masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya. Abang Pertama sangat menyukai buah salak. Abang Kedua menyukai buah duku. Kakak Ketiga menyukai buah rambutan. Adik Pertama menyukai buah durian. Adik Imut sangat menyukai buah manggis. Sedangkan Adik Bungsu menyukai buah jeruk. Walaupun berbeda-beda, mereka saling menghargai kesukaan mereka masing-masing. Tidak lama kemudian, buah-buah tersebut habis. Sambil menikmati senja, keluarga kijang merahpun bercengkerama akrab ditemani angin sore yang sejuk.

Adik Imut dan Kontes Menyanyi


        Sang Raja Hutan sedang bersedih, entah apa yang terjadi, tidak ada yang tahu pasti penyebabnya, bahkan Sang Permaisuri pun tidak tahu. Oleh sebab itu, Permaisuri pun berpikir untuk menghiburnya. Maka diadakanlah kontes menyanyi bagi semua penduduk hutan. Raja sangat gemar mendengarkan musik, siapa tahu hal ini dapat membangkitkan kembali semangatnya. Bagi siapapun yang mampu menghibur Raja dengan nyanyiannya, maka akan mendapatkan hadiah yang istimewa dari Kerajaan Hutan.


Kemudian tersebarlah kabar tersebut dengan cepatnya ke seluruh penjuru hutan. Keluarga kijang merah pun tak luput mendengar berita itu. Mereka juga ingin agar Sang Raja kembali gembira seperti sedia kala. Mereka pun berdiskusi bagaimana caranya. Lalu ditunjuklah Adik imut untuk mengikuti kontes menyanyi tersebut. Kebetulan suara Adik imut yang paling merdu diantara yang lainnya.

Maka berlatihlah Adik Imut, ditemani saudara-saudaranya yang lain. Apabila ada yang salah atau kurang, lalu diperbaiki agar menjadi lebih baik. Adik Imut berlatih dengan keras, dan didukung penuh oleh saudara-saudaranya. Selain itu, mereka pun menyiapkan ‘sesuatu’, untuk diberikan kepada Sang Raja, mereka pun bekerja semalaman untuk membuatnya. Keluarga kijang merah memang penuh dengan kejutan.

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Semua penduduk hutan sudah berkumpul di halaman istana kerajaan. Halaman istana pun dirubah menjadi panggung yang cukup megah, layaknya panggung sebuah konser. Setelah semuanya siap, ditabuhlah genderang kerajaan. Kontes menyanyi pun dimulai.

Ternyata banyak juga penduduk hutan yang mengikuti kontes menyanyi. Badak, semut, elang, kancil, beruang, zebra, merak dan burung hantu saling berlomba memamerkan suaranya. Namun belum ada yang bisa membuat Raja terhibur, bereaksi saja tidak. Sang Raja yang duduk di kursi kebesarannya masih memperlihatkan wajah yang murung. Permaisuri yang duduk di sebelahnya pun terlihat cemas, sambil terus menggenggam tangan Sang Raja.

Akhirnya tibalah giliran Adik Imut untuk bernyanyi, menunjukkan hasil latihannya selama ini. Ketika Adik Imut berdiri di atas panggung, tiba-tiba listrik padam. Paniklah semua hadirin. Musik tidak dapat dinyalakan, mic tidak bisa berbunyi. Adik Imut pun berpikir, jika dia tetap memaksa untuk bernyanyi, maka suaranya tidak akan terdengar, karena panggung yang sangat besar dan hadirin yang sangat banyak.
 Tiba-tiba muncullah ide. Aha, Adik Imut memang selalu penuh dengan ide.

Masih dalam suasana panik para hadirin di halaman istana, dengan tenang Adik Imut menggerakkan tangan ke atas, yang kemudian membuat semua terdiam. Apa yang akan dilakukan Adik Imut?

Tak berapa lama kemudian, Adik Imut membuat gerakan-gerakan tanpa suara yang lucu, disertai mimik muka yang juga lucu. Ternyata Adik Imut ingin berpantomim. Mungkin ini yang lebih dapat dilakukan dalam keaadaan mati listrik, berpantomin, daripada menyanyi.

Dan tanpa disangka, Sang Raja Hutan tersenyum melihat tingkah laku Adik Imut. Dan semakin lebar senyum Sang Raja, bahkan tertawa, setelah Adik Imut memperlihatkan gerakan-gerakan yang aneh-aneh.

Seluruh hadirin pun ikut tersenyum, bukan karena melihat pertunjukkan Adik Imut, tetapi karena melihat Sang Raja, akhirnya raja mereka tersenyum kembali.

Setelah pertunjukkan Adik Imut selesai, Sang Raja pun naik ke atas panggung. Sang Raja sangat berterima kasih kepada Adik Imut karena telah berhasil membuatnya tersenyum kembali. Permaisuri pun memberikan hadiah sesuai perjanjian, walaupun Adik Imut tidak menyanyi, tetapi dapat membuat Sang Raja gembira. Dengan malu-malu, Adik Imut pun menerima hadiah dari Permaisuri. Lalu mengajak saudara-saudaranya, keluarga kijang merah, untuk naik ke atas panggung.

Di atas panggung, keluarga kijang merah memberikan pula hadiah untuk Sang Raja, yang telah mereka persiapkan semalaman suntuk. Sebuah parcel buah-buahan hasil kebun mereka yang dihias sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti istana kecil. Sang Raja sangat senang menerimanya, ternyata rakyatnya masih peduli padanya, karena hal inilah yang merisaukannya akhir-akhir ini, yang membuatnya gundah gulana dan menjadi tidak tersenyum. Padahal sebenarnya seluruh penduduk hutan masih sangat menyayangi Sang Raja.


Untuk merayakan hal ini, maka diadakanlah pesta di kerajaan. Seluruh penduduk hutan diundang. Adik Imut dan keluarga kijang merah menjadi tamu istimewa Sang Raja.      

Senin, 10 September 2012

Wisata Blitar

Yupz, tujuan saya kali ini adalah Blitar. Yah, sebagai kota tetangga, perlu juga untuk dikunjungi sesekali, siapa tahu rumput tetangga lebih hijau,, ^^v
Tujuan utamanya ke Pantai Tambakrejo, yang menurut gosip pantainya bagus, jadi biar makin sip, mari kita coba untuk membuktikannya. Let’s go,,
Di hari Minggu yang cerah (9/9), capcus dari Kediri jam 9 pagi (ehem, masih bisa dibilang pagi lah ya ^^), saya dan teman-teman sekantor melakukan perjalanan sepeda motor ke pantai tersebut. Dengan “sedikit” balapan, tanya sana-sini, melewati lembah dan bukit, ternyata tempatnya cukup terpencil, jauh dari peradaban (tapi masih ada sinyal kok), trus pantai ini termasuk daerah kawasan pantai selatan. Setelah menempuh 2 jam, sampailah kita di Pantai Tambakrejo,, *fiuhhh* *ngelap keringet*


Dan….
*jeng jeng jeng*
Pantai………….


Akhirnya saya menemukan pantai juga, setelah tiga bulan merantau,, *terharu*
Ok, saatnya menikmati pantai,,
Cuma, karna kita sampainya udah siang, dimana sang matahari sedang bersinar dengan asyiknya, jadi teriknya cukup lumayan, lumayan bisa buat jemuran jadi gosong,, But, no problemo, tetap bisa menikmati pantai kok,, *tetep semangat*




Ada angin sepoi-sepoi,,
Ada pasir yang putih,,
Ada air laut yang biru,,
Ada ombak yang bergelombang,,
Ada karang yang kokoh,,
Tapi…………. *abaikan*




Pantai Tambakrejo ini cukup indah, ada pantai pasir dan pantai karangnya. Putihnya pasir berpadu dengan hijau dan birunya air. Langit juga ga mau kalah memberikan sentuhan warna biru dan putihnya. Kombinasi warna yang sangat bagus, amazing,,
Trus ombaknya juga ga terlalu besar, jadi bisa dibuat berenang, banyak juga kok pengunjung yang berenang. Yah, walopun lebih tepat disebut berendam daripada berenang sebenarnya, he,, Pantainya juga lumayan rame wisatawan, rame pedagang juga,, ^^v
 
Puas maen (plus foto-foto ^^) di kawasan pantai pasir, kitapun menuju bukit karang. Jalan kaki sekitar 10 menit, sampailah di kekarangan. Disini cuma ada karang dan air. Airnya jernih, jadi kita bisa ngeliat karang-karang yang terendam air, sayang ga ada ikannya (kalo ada kan bisa dibawa pulang *eh*). Ada juga beberapa batu karang yang sangat besar, yang dapat menahan ombak yang datang, sehingga percikan airnya berpencar ke segala jurusan (jurusan Pare-Wates ada ga yaa? *lol*). Menurut saya, tempat ini lebih menarik, karena untuk mencapainya, kita harus melewati karang-karang yang tajam dan licin, untuk menemukan tempat terbaik melihat laut lepas. Disini juga banyak spot bagus untuk mengabadikan kenangan (baca: foto-foto),,
         

Setelah puas bernarsis ria, kita pun istirahat, nyari kamar mandi untuk bersih-bersih, trus kita capcus dari pantai ‘n nyari makan di kota. Kenapa di kota? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang,, ^^v
Setelah muter-muter dan bingung mau makan apa (prinsip terserah mau makan apa ‘n makan apa aja), sampailah kita di alun-alun Kota Blitar. Singgah di salah satu warung makan, makan siang plus sore (udah jam 3 soalnya, jadi sekalian dirapel ^^). Alun-alun Kota Blitar cukup ramai ternyata. Tempatnya juga lumayan asyik buat nongkrong,,





Tujuan selanjutnya Makam Bung Karno. Mumpung ada di Blitar, sekalian mampir ceritanya. Sampe di Kawasan Wisata Makam Bung Karno, walah tempatnya ramai sekali. Banyak orang yang ingin berziarah ke Makam Bung Karno, tidak hanya saya saja ternyata, haha,,
Uniknya, disini banyak becak, dan sangat diminati oleh wisatawan. Mungkin karna kendaraan roda 4 ga boleh masuk kawasan makam, jadi salah satu alternatif ya naik becak. Soalnya dari tempat parkir kendaraan roda 4 ke Makam Bung Karnonya lumayan jauh. Bisa juga sih jalan kaki, sambil melihat-lihat, coz disepanjang jalan banyak toko-toko souvenir, jadi ga ngebosenin. Yah, mungkin untuk perekonomian juga kali ya, makanya disetting seperti itu. Tukang becak itu mengantarkan penumpangnya dari parkiran mobil ke makam, nanti tukang becaknya nungguin sampe penumpang tersebut selesai berkunjung ke makam, trus nanti dianter lagi ke parkiran mobil. Tapi kalo kendaraaan roda dua bisa parkir di deket-deket makam, jadi ga perlu nyewa becak,, ^^v
Waktu mau masuk kawasan makam, ternyata harus daftar dulu, nulis nama di buku pegunjung. Ada kamera CCTVnya juga lho di kantornya, walah udah canggih ya, he,,


Ternyata ga cuma makam aja, ada perpustakaan sama museum juga, tempatnya juga luas, menarik,,
Kita liat-liat museum dulu,,
Di depan museum, ada patung besar Bung Karno sedang duduk di kursi sambil membaca buku, keren banget,, ^^
Museum ini berisi semua tentang Bung Karno, mulai dari lukisan, foto-foto, patung, pakaian, bendera (bendera asli jahitan Ibu Fatmawati), uang gambar Bung Karno, perangko seri Bung Karno, garuda pancasila, dan benda-benda peninggalan Bung Karno. Wah, rasa nasionalisme saya tiba-tiba meningkat. Jadi tambah kagum sama bung karno,, =D
Puas keliling museum, kita ke makam, tadinya mau ke perpustakaan juga, tapi sayang ditutup,,
Sepanjang jalan dari museum ke makam, di salah satu sisi dinding, ada relief yang menceritakan sejarah perjuangan Bung Karno untuk Indonesia, sungguh besar jasa beliau,,
Sampai di makam, sudah banyak orang-orang yang duduk mengelilingi makam beliau sambil berdoa, mendoakan yang terbaik untuk beliau. Walaupun sudah wafat, tetapi masih menyisakan semangat perjuangan. Di samping kiri dan kanan makam beliau, terdapat makam ayah dan ibu beliau,,


Setelah dari makam, kita pun beranjak pulang, ternyata jalan masuk dan pulang berbeda. Pas pulang, kita harus melalui semacam lorong panjang yang di sepanjang sisi kiri dan kanannya terdapat berbagai macam toko-toko souvenir dan oleh-oleh, kira-kira 15 menit kemudian baru muncul ke area terbuka. Sepertinya (lagi-lagi) sudah disetting, biar pengunjung tahu keberadaan tempat jualan tersebut, sehingga mungkin ada yang berminat untuk berbelanja. Yah lumayan lah buat cuci mata, walopun saya ga beli, he,,

Udah mau magrib, yuk ah, cus balik ke Kediri,,
Terima kasih Blitar......
^o^